Monday, December 20, 2004

Mungkin Benar jika...

Mungkin aku tak mudah untuk melupakan dirimu yang sudah lama aku impikan untuk bisa mewujudkan segala ingin dan mauku. Tapi semuanya kini hanya angan dan jadi sampah di otakku yang ingin segera kubuang di tong sampah.

Dirimu terlalu lama memberikan harapan kosong padaku. Kenapa tidak sejak dari dulu kau katakan siapa sebenarnya pemilik dirimu agar aku bisa menjaga jarak, menjaga hati, menjaga sikap untuk tidak terlalu banyak menaruh harapan pada dirimu. Senyum dan canda itu ternyata kusalah artikan hingga akhirnya itu yang menyakitkanku. Aku sebuah cerita yang tak kunjung usai untuk kau jelajahi dan kau pahami.

Ada berpikir bahwa ini adalah salahku kenapa aku turutkan sebuah penalaran hanya karena aku tak tahu siapa dirimu. Aku menyesal mengenalmu sebagai sahabat yang tiada habis bercanda dan berbicara. Dan kenapa kau tak jelaskan itu di awal kita pertama bertemu. Aku banyak mengira dan mengira saja...akhirnya aku yang dihancurkan perasaan ini juga. Aku benci itu, sangat benci sekali *******

Cukup ini saja perjalanan hidup yang pernah kutorehkan dengan dirimu. Tak ingin lagi kupandang semua jejak-jejak tertinggalmu yang hanya menghasilkan luka dan sedih di hati. Lelah dan hanya kelelahan yang dapat terkatakan dari sepenggal hidupku kemaren bersamamu. Semoga kau bisa nikmati hidup sebentar ini dengan dia yang kau pilih. Biarlah kemaren jadi sebuah cerita indah kukenang, dimana aku mengenal seorang wanita terhebat yang pernah kukenal yang bisa memiliki persamaan pemikiran dengan diriku.

Kutantang diri ini untuk lebih jauh menjalani hidup kejam ini. Jangan ikuti aku, aku ingin sendiri dan jauh darimu. Tak ingin lagi hati ini bisa berubah di kala waktu bergulir. Cukup aku yang kau sakiti meski kau tak tahu itu.

Aku hancur di sebelah keanggunanmu...

Biarkan nafas ini jadi sebuah penjelasan yang benar bahwa aku pernah mencintai dirimu. Lalu harus aku buang untuk tidak menjadi racun bagi kelanjutan hidupku...

Aku benci hidupku dan nasib meski aku tak akan membohongi takdir dan qadha dariku. Semoga Allah juga menolongku untuk segera lepas dari ini semua. Dan bahagialah kau disana.

Semoga kau tak kembali lagi dalam hidupku...kumohon

No comments: