Friday, February 24, 2006

SEMANGAT

Di saat kita ingin menjadi orang yg tanpa dibayar karena kita ingin mandiri, maka kita sebenarnya melawan arus kebanyakan para alumni sebuah perguruan tinggi. DIsaat kita kuliah kita mungkin terdoktrin untuk menjadi pekerja. Bahkan mungkin harapan dari orang tua pun sama juga demikian.

Tapi disaat kita ingin menjadi seorang wirausaha yang bekerja sendiri, maka orang lain beranggapan lain. Karena kita menganggap kita telah menempuh resiko yang lain. Akan tetapi buatku dengan menempuh resiko itu sebarnya kita telah mengajak diri kita untuk bisa lebih survive dalam menempuh hidup. Dengan jalan itu kita telah melawan arus keinginan orang tua, arus kawan-kawan kita dan lainnya.

Permasalahannya kita sebagai alumni perguruan tinggi (bukan mahasiswa lagi!) terlalu mengagungkan titel kita sebagai mahasiswa. Karena kecongakan itu pula yang membuat kita berpikiran bahwa bekerja kepada perusahaan yg bonafide akan meningkatkan status kita dimata masyarakat. Padahal kenyataannya demand dan supply antara tenaga kerja dan lapangan kerjanya sendiri tidak imbang. Haruskah hanya menunggu dan mengharapkan tanpa berusaha?? Saya bukan tipe seperti itu.

Saya menyadari sekali kemampuan dan kelemahan saya. Karena itu meskipun tidak bekerja kepada orang lain tidak membuat saya berputus asa. karena untuk mendapatkan rejeki kita harus berusaha bukan dengan menunggu saja. Disitulah nilai ikhtiar dan niat. Ingat bahwa antara niat dan kemampuan tidak bisa setengah-setengah..

niat X kemampuan = hasil
1/2 X 1/2 = 1/4
jika kita hanya setengah2 maka hasilnya malah lebih kecil alias hancur

1/2 X 1 = 1/2
Sedangkan jika kita punya kemampuan akan tetapi niatnya setangah2 maka tidak akan menghasilkan perubahan apa-apa.


1 X 1 = 1
Nah hasilnya akan ditemukan apabila kita bisa memiliki niat yang bulat serta kemampuan untuk bergerak itu.

Saya jadi teringat dengan kuliah dari Dosen Inovasi dan Kewirausahaan (Bpk. Budi Praptono) mengenai status antara mahasiswa dan sesudahnya.
Disaat kita memegang status mahasiswa maka derajat kita seakan2 lebih tinggi dibandingkan disaat kita lulus.

Lihat contohnya, disaat kita masih kuliah kemudiaan pulang ke kampung kemudian kita akan bertemu dengan para tetangga2 kita. Mungkin mereka akan bertanya, "kuliah dimana, mas?". Dan kita akan berbangga diri dengan menjawab,"STT TElkom, pak". Mereka pasti akan bilang, "wah hebatnya kuliahnya di STT Telkom..pinter dong?". Kita hanya senyam-senyum aja karena memang kita bangga kuliah disana.

Nah setelah kita lulus, maka disaat itu kita akan malu untuk pulang kembali ke kampung. Kenapa? klasik...kita nggak mau kehilangan status kita yang udah naik level sebagai golongan berpendidikan maju. Sedangkan kalau kita pulang lalu kemudian menganggur, maka orang akan mengatakan,"Sekolah mahal-mahal kok nganggur ya??..". Hahahaha...

memang nggak salah seperti itu, tapi sebenarnya yg perlu kita ketahui adalah mental seperti itu yang membuat kita seolah-olah "hidup segan, mati tak mau".

Otak kita hanya terkotak-kotak untuk bisa mendapatkan kerja di tempat bonafide...titik.
Karena kita telah memberikan titik maka kemampuan daya analisa kita (sebagai anak TI..) akhirnya pupus karena terlalu sering digunakan untuk mencari iklan lowongan kerja dan sebagainya. Padahal otak anak TI jauh lebih berguna dari itu.

Kita diciptakan sebagai seorang inovatif dan kreatif. Kita menciptakan dan memunculkan ide bahkan kalau perlu membuat ide tersebut. Itulah kita yang sebenarnya...

Kenapa harus malu menjadi anak TI yang jualan donat, jualan voucher, jualan apalah pokoknya...toh juga halal dan sama-sama menghasilkan uang. daripada menganggur dan menghabiskan waktu untuk menunggu percuma. Ingat Waktu tidak mungkin diputar kembali semantara kita terus dikejar waktu.

Rejeki dicari, bukan ditunggu

Hanya kepada ALLAH SWT semata kita mohonkan semoga setiap kita masing2 diberikan rejeki yang bermanfaat dan berguna dunia akhirat. Terutama semoga dengan nikmat itu tidak membuat kita melupakan diri untuk mensyukuri nikmat itu sendiri. Amin

No comments: